Minggu, 27 Juli 2008

Penggalian Ide



Nun. Demi pena dan apa yang dituliskan

(Surat Al-Qalam)

Tinta ulama’ lebih mulia daripada darah suhada’
(Al Hadits)

Pengantar

Dalam proses kreatif menulis, baik karya tulis ilmiah atau karya ilmiah populer, hal yang perlu diperhatikan adalah sumber dasar tulisan: penggalian ide. Penggalian ide ini merupakan prasyarat eksistensi menulis karena merupakan “jantung” tulisan. Proses penggalian ide ini hendaknya dilakukan dengan seksama yang biasanya melibatkan hal-hal berikut: (1) pemikiran dan konsentrasi, (2) pengamatan, (3) identifikasi, (4) komparasi, (5) estimasi, dll. yang merupakan pekerjaan menulis bagi seorang penulis dalam menentukan “ide segar” yang layak untuk ditulis. Seorang penulis senantiasa berusaha melakukan, melihat dan mendengar sesuatu yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi (proses penggalian ide).
Selain itu, dalam proses penggalian ide hendaknya ditetapkan pula spesifikasi topik agar karangan bisa mencapai sasaran yang diinginkan dan cukup signifikan karena cakupan kajiannya cukup representatif untuk disajikan ke pembaca; dengan demikian pola karya tulis semacam ini telah memasuki wilayah “Theology of text” (Teologi teks) yang menjadi tujuan akhir dari karya tulis yang spektakuler. Ini adalah satu paradigma (pola pikir) yang sering kita jumpai dalam tulisan yang berlabel: best-sellers. Mungkinkah karya tulis kita menuju ke sana? Ini semua tergantung pada motivasi, kemampuan dan aktifitas optimal serta, menurut Piliang (2008) netocracy (kekuatan jaringan (politik, sosial, ekonomi, dll.) kita.

Bagaimanakah memotivasi diri dalam penggalian ide spektakuler?


Sebelum melakukan penggalian ide, ada baiknya menanamkan keyakinan, yang merupakan pola aktualisasi-diri (self-actualization), sebagai berikut.
Anggaplah dirimu sebagai pengumpul atau pengguna ide: dengan demikian kalian akan selalu merasa membutuhkan ide
Tertariklah pada dunia: maksudnya untuk memperhatikan apa yang terjadi di sekitarmu, termasuk kejadian di buku, TV, Radio dan Film
Catatlah observasi dan pertanyaanmu dalam buku kumpulan ide: lakukan sewaktu ide itu muncul tiba-tiba atau kamu bisa menentukan jadwal pengumpulan ide
Biarkan ide itu masuk dulu sebelum memilih untuk menulisnya: ide yang seringkali muncul di benak kita akan jauh lebih bernilai untuk dikembangkan menjadi tulisan

Bagaimanakah proses penggalian ide itu?

Proses penggalian ide ini bisa, secara spesifik, dilakukan melalui proses pengamatan yang mendalam mengenai hal-hal berikut:
Orang (People)
Tidak semua komunitas manusia bisa dijadikan proses penggalian ide dasar akan tetapi prototip manusia yang unik dan memiliki superioritas (proses differensiasi) dan proses signifikasi: signified (penanda) dan signifier (petanda) yang cukup menarik untuk diteliti. Hal yang paling sering dijadikan penggalian ide tentang manusia ini adalah mengenai perilaku mereka. Misalnya, topik: Perselingkuhan Antar Selebriti di Jakarta, Kenakalan Siswa SMA di Kota Pasuruan, Cinlok (Cinta Lokasi), dll. Agus Noor, seorang cerpenis, menulis Selingkuh itu Indah, yang cukup baik untuk dijadikan referensi hedonistic behavior ini. Fenomena ini dirasa cukup menarik untuk membangkitkan gairah penggalian ide. Adapun bentuk karya tulis lainnya, antara lain: Para Priyayi 1 dan 2 (Umar Kayyam), Siti Nurbaya, Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway), Wives and Daughters (Elisabeth Gaskell), dll.
Tempat (places)
Demikian juga tempat, hal yang paling menarik untuk dikaji adalah tempat yang menarik, unik atau, bahkan, yang memiliki nilai historis, kosmopolitan, kehidupan hedonistik, dll. Misalnya, banyak penulis menggunakan Jakarta sebagai substansi tulisan, seperti Rendra, Fira Basuki, Djenar Maesa Ayu, dll. Bali ditulis oleh Sapardi Djoko Damono (Kumpulan puisi), Oka Rusmini (Novel), dll. Malioboro oleh banyak novelis termasuk Fredy S., Maria Fransiska, dll. Mengapa mereka menggunakan obyek (tempat) sebagai setting tulisan mereka? Karena tempat-tempat itu sudah dikenal luas oleh masyarakat. Di sini ada nuansa popularitas yang akan ditunjukkan kepada para pembaca sehingga pembaca bisa lebih akrab dengan kota-kota terkenal itu. Selain itu, tulisan itu memiliki imej dan apresiasi sebagai tulisan bertaraf nasional maupun internasional karena tempat-tempat itu dikenal hingga mancanegara.
Makhluk hidup lain: tanaman dan binatang (Plants and animals)
Konsiderasi yang cukup menarik pula sebagai bahan dasar (resep) tulisan adalah tanaman dan binatang. George Orwell, novelis produktif Inggris, menulis novel yang cukup populer berjudul Animal farm (Lahan Binatang) dan juga novel yang difilmkan berjudul Silence of the Lambs (Ketenangan Domba-domba) dan film India berjudul Main Aur Mera Hatti (Aku dan Gajahku) juga terinspirasi oleh ide ini, Tujuh Manusia Harimau, Harimau-harimau (Mochtar Lubis), dll.
Hal-hal yang diproduksi (manufactured things)
Hal yang diproduksi ini merupakan pola kreatifitas manusia yang memiliki nilai konsumtif tinggi, seperti: komputer, internet, handphone (mobile phones), fax, dll. Media komunikasi ini sangat memungkinkan menjadi inspirasi dalam menulis karena mereka sangat dekat dengan kita. Adapun karya tulis yang mungkin diciptakan dari pengamatan dan pemikiran hal-hal di atas adalah Peranan Internet Sebagai Media Pembelajaran di SMA “Doraemon,” Handphone Menjadi Alat Komunikasi Penting Bagi Semua Strata Sosial di Kota Pasuruan, dll.
Interpretasi Kitab Suci
Kitab-kitab suci bisa dijadikan rujukan dalam menulis dengan variasi interpretasi (studi hermeneutika) sesuai dengan kondisi jaman. Beragam inspirasi teologis ditemukan di sini yang bisa dijadikan sebagai media menulis, khususnya tulisan bernuansa, menurut Hidayat (2005), religiusitas dan spiritualitas. Karya spektakuler yang bersumber pada latar belakang teologis ini adalah tulisan Habiburrahman Asy-Syirozy: Ayat-ayat Cinta disusul dengan Ketika Cinta Bertasbih dan sinetron Munajat Cinta, dll.

Sumber-sumber topik apa yang umumnya mendukung penggalian ide?


Dalam penggalian ide tidak harus dilakukan secara lepas tanpa berpedoman pada topik karena akan bias ke mana-mana. Oleh sebab itu, dalam penggalian ide nampaknya perlu memperhatikan topik yang biasanya sering memberi inspirasi para penulis. Topik-topik yang menjadi inspirasi, karena frekuensi kedekatannya dengan penulis, dalam penggalian ide adalah sebagai berikut.
Media Massa
Media massa, baik cetak maupun elektronik, memainkan peran cukup efektif dalam penggalian ide karena cakupan masalahnya begitu luas sehingga memungkinkan untuk menggali informasi lebih dalam. Misalnya tentang kriminalitas di kota Pasuruan. Dari topik ini kemudian dikembangkan lagi dalam perspektif kemiskinan, pengangguran, sistem peradilan, program rehabilitasi, dll. Dari perspektif di atas bisa dibuat karya tulis, misalnya: Dampak Kemiskinan Terhadap Tingkat Kriminalitas di Kota Pasuruan, Lemahnya Supremasi Hukum vis a vis Kriminalitas di Kota Pasuruan, PKL dan Profil Problematika Kemiskinan Struktural di Kota Pasuruan, dll.
Pekerjaan Sekolah
Pekerjaan sekolah, dengan beragam matapelajaran, bisa dijadikan sebagai bahan rujukan untuk menggali ide. Sekilas tidak ada ide yang kolosal dari pelajaran sekolah karena kita kurang tertarik memperhatikannya. Kalau kita cermati dengan seksama, kita akan menemukan topik-topik yang menarik dalam tulisan kita. Misalnya, kita belajar Fisika di kelas tentang topik Dampak rembulan terhadap arus pasang. Mungkin kita akan berpikir tentang dampak lain yang mungkin berkembang dalam satu bahasan Fisika.
Ambil saja contoh lainnya tentang pelajaran Matematika. Salah satu pemenang LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja) tingkat Nasional tahun 2001 adalah ide integrasi Matematika dengan Fisika dengan judul Menebak Terjadinya Gerhana Matahari Dengan Hitungan Matematika. Pengamatan aktivitas pembelajaran Bahasa Inggris sehingga memunculkan ide: Pengajaran Structure Bahasa Inggris Dengan Kartu dan Carta dengan Pendekatan Semiologis menjadi Juara II Lomba Keberhasilan Guru (LKG) Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta yang ditulis oleh Agus Harianto. Ternyata mudah, bukan? Silakan coba!
Percakapan Umum
Percakapan umum menyediakan banyak ide pula untuk digali karena merupakan aktifitas kita sehari-hari. Misalnya, kita antri bis dan berbicara dengan seseorang tentang keluarga, politik, sosial, budaya, dll. sehingga topik-topik ini bisa dikembangkan dalam sekuensi persoalan yang sedang nge-tren dibicarakan. Misalnya, krisis ekonimi yang tidak kunjung selesai kemudian muncul ide baru tentang perlunya pemimpin yang humanis, korupsi semakin merajalela, muncul ide perlunya pelatihan ESQ, Manajemen qalbu atau NLP (Neuro Linguistic Programming) di instansi pemerintahan, dll.
Minat Pribadi
Minat pribadi ini dicirikan dengan pemilihan ide (topik) yang paling menarik dan kita sukai. Hal ini dianggap sangat memudahkan dalam penggalian ide karena apa pun yang diperlukan untuk melakukan itu, semuanya mudah diperoleh. Misalnya, rasa suka kita pada Inul. Kita bisa menggali ide tentang Dampak Inul Daratista Terhadap Prestise Musik Dangdut. Atau Rhenald Kasali, pakar manajemen bisnis UI, menulis Inulogi (Studi tentang Inul dan prospek bisnis entertainment di Indonesia). Atau topik lain: McDonald dan Hieginis produk, Pengaruh Fast Food Terhadap Perilaku Konsumen, dll.
Pendapat Sendiri
Paradigma seperti ini dilakukan sesuai dengan keaktifian pikiran kita. Misalnya, kita mendengar atau melihat sesuatu dan fenomena itu selalu membayang dalam benak kita, maka hal ini bisa dijadikan rujukan. Pola pikir seperti ini dilakukan dengan jalan membuat hubungan masalah (Problem Tree dan interrelasinya), bertanyalah pada dirimu sendiri, bertanya-tanya bagaimana atau mengapa, berpikir tentang perbandingan dan kontras, pertanyaan tentang sebab-akibat, pertimbangkan alternatif, dll.

Penutup

Berdasarkan beberapa paradigma dia atas, ternyata proses penggalian ide itu mudah karena beragam topik berada di sekitar kita; dan yang paling penting diperhatikan dalam penggalian ide ini adalah bagaimana cara mencari topik yang sesuai dengan kemampuan kita demi efisiensi dan efektifitas kerja kita. Selain itu, kita hendaknya memperhatikan “resep menulis” yang meliputi: motivasi, kemampuan dan aktivitas yang dikemas dalam satu adagium: Writing is fun (menulis itu menyenangkan). Oleh sebab itu, bergegaslah mulai sekarang dan tidak ada kamus terlambat dalam belajar dan mencoba menulis karena menulis bukanlah sebuah bakat inheren yang sulit untuk dilakukan. Semoga sukses! Amiin yaa rabb al-‘aalamiin.

Tulisan ini dipresentasikan pada Pelatihan Karya Ilmiah Remaja (KIR) untuk Pelajar SLTP dan SLTA yang diselenggarakan oleh Dinas P dan K Kota Pasuruan Tanggal 24 – 25 Juli 2008


AGUS HARIANTO, S.Pd

PEMERINTAH KOTA PASURUAN
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KOTA PASURUAN
TAHUN 2008




2 komentar:

Anonim mengatakan...

Yups kalo bisa artikelnya diperbanyak yach, utk share pengetahuan.

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum
pak agus gimana kabarnya,,wah terpampang fotonya di singapura, jadi kepengen :D
saya bagus arianandhika alumni smusa lulusan 2004.
iseng-iseng searching website2 tentang sekolah, akhirnya bisa ketemu blog bapak itung2 silaturahmi.
kalo pingin kontak2 saya bisa email ke : cj_dwlho@yahoo.com